Tulisan bab 8
Integrasi Sosial Masyarakat
Indonesia
sebagai sebuah bangsa (nation) merupakan social-nation yang berasal dari
berbagai kelompok etnik. Keberagaman etnik tersebut yang menimbulkan suatu
pertanyaan besar bagi bangsa ini. Apakah dengan keberagaman etnik di Indonesia,
akan mudah dipersatukan atau tidak?. Intensitas fanatisisme dan ekstrimitas
etnik yang besar dapat menjadikan sulitnya integrasi. Berbagai kelompok
masyarakat masih banyak yang mengutamakan identitas etnik utamanya. Adapula
yang menonjolkan identitas keagamaan ataupun yang bersifat vertikal seperti
profesi, ataupun tingkat kekayaan. Secara realita hal ini masih terjadi di
Indonesia. Namun, di lain sisi tidak semua kelompok masyarakat memiliki ciri
hot ethnicity (menonjolkan identitas etnik) melainkan ada pula yang lebih
bersifat toleran satu sama lain.
Dalam kaitannya dengan persoalan integrasi sosial masyarakat Indonesia, nasionalisme menjadi sebuah jawaban untuk menjawab persoalan tersebut. Nasionalisme yang paling minimal adalah toleransi antar suku, agama, ataupun ras. Toleransi berarti menghargai kelompok yang dianggap minoritas. Namun, nasionalisme lebih dari itu. Tidak ada kelompok yang dianggap minoritas, melainkan menjadikan seluruh keberagaman menjadi satu. Semua komponen warga memiliki rasa sebagai suatu bangsa. Dalam hal ini, Indonesia memiliki pancasila sebagai payung bangsa yang menyatukan keberagaman. Pancasila sebagai sebuah nilai, dan nilai tersebut yang diusahakan untuk senantiasa ditanamkan kepada sosial masyarakat di Indonesia. Prinsip Bhineka Tunggal Ika (berbeda-beda tetapi tetap satu) yang terus disosialisasikan sebagai upaya membentuk dan mempertahankan integrasi sosial masyarakat Indonesia.
Dalam kaitannya dengan persoalan integrasi sosial masyarakat Indonesia, nasionalisme menjadi sebuah jawaban untuk menjawab persoalan tersebut. Nasionalisme yang paling minimal adalah toleransi antar suku, agama, ataupun ras. Toleransi berarti menghargai kelompok yang dianggap minoritas. Namun, nasionalisme lebih dari itu. Tidak ada kelompok yang dianggap minoritas, melainkan menjadikan seluruh keberagaman menjadi satu. Semua komponen warga memiliki rasa sebagai suatu bangsa. Dalam hal ini, Indonesia memiliki pancasila sebagai payung bangsa yang menyatukan keberagaman. Pancasila sebagai sebuah nilai, dan nilai tersebut yang diusahakan untuk senantiasa ditanamkan kepada sosial masyarakat di Indonesia. Prinsip Bhineka Tunggal Ika (berbeda-beda tetapi tetap satu) yang terus disosialisasikan sebagai upaya membentuk dan mempertahankan integrasi sosial masyarakat Indonesia.
Perlu
diketahui bahwa, integrasi sosial tidak terjadi secara ilmiah tetapi ada
intervensi kekuasaan atau pemerintah. Pemerintah memiliki peranan penting dalam
hal ini. Telah disebutkan sebelumnya, pancasila sebagai payung bangsa yang
menaungi bangsa Indonesia. Pancasila bukanlah produk yang alami melainkan hasil
dari pemerintah. Dengan begitu, pancasila pun dapat menjadi salah satu contoh
intervensi kekuasaan dalam upaya integrasi sosial masyarakat Indonesia. Jika
pemerintah memiliki peranan yang sangat penting, seharusnya perbaikan Indonesia
dimulai dari memperbaiki kondisi pemerintahan. Pemerintah yang baik, dapat
menjaga ketahanan integrasi sosial. Selain dari perbaikan kondisi pemerintahan,
upaya-upaya untuk memperbaiki bangsa khususnya integrasi sosial harus lebih
digalakkan.
Salah
satu upaya pemerintah dalam mengembalikan harga diri bangsa adalah kebijakan
otonomi daerah. Sentralisasi yang mulai berakhir sejak runtuhnya rezim orde
baru menjadikan jawaban atas bangkitnya identitas lokal. Otonomi daerah yang
digagas merupakan upaya desentralisasi di Indonesia. Kemudian menjadi pertanyaan
lagi adalah, bukankah dengan adanya otonomi daerah dapat memecah persatuan
bangsa? Jika otonomi daerah dilihat dari sisi permukaannya saja mungkin jawaban
“iya” tepat untuk menjawab pertanyaan tersebut. Tetapi dengan melihat realita
di Indonesia, otonomi daerah dapat membantu mengembangkan potensi daerah dan
memang “belum” pernah terjadi perpecahan yang disebabkan oleh otonomi daerah .
Menurut perspektif saya, otonomi daerah memang memiliki banyak kebaikan bagi
bangsa ini. Kebaikan tersebut selain ditujukan pada daerah dan juga bangsa ini
secara luas
.
Salah
satu ancaman bagi integrasi sosial masyarakat di Indonesia adalah berkembangnya
modernitas. Hal ini memang tidak dapat dihindari melihat kondisi bangsa
Indonesia berada pada posisi peralihan dari cirri tradisional menuju masyarakat
modern. Modernitas dapat mengancam rasa tenggang rasa. Mungkin yang paling
dirasakan dari modernitas adalah hilangnya identitas lokal ataupun kebangsaan.
Sedangkan, identitas kebangsaan adalah dasar dari integrasi sosial. Identitas
kebangsaan yang menyatukan keberagaman dalam bangsa ini. Dengan munculnya
modernitas, sikap tidak kepedulian masyarakat akan tumbuh dan hilangnya wujud
keadilan sosial.
Dalam
kaitannya dengan itu semua, Indonesia sebagai penganut paham demokrasi
pancasila sepatutnya menegakkan nilai keadilan sosial yang merupakan cita-cita
bangsa. Integrasi sosial masyarakat Indonesia dapat terwujud dengan keadilan
sosial tersebut. Perwujudan keadilan sosial yaitu dengan membenahi pemerintah
sebagai pemegang kekuasaan, dan dengan adanya pemerintah yang baik tidak hanya
bersatunya bangsa ini melainkan juga kemajuan bangsa ini pun akan terwujud.
Faktor - Faktor untuk mencapai Integrasi Sosial
dalam Masyarakat
Integrasi sosial dalam masyarakat dapat dicapai apabila unsur-unsur sosial saling berinteraksi.Selain itu norma-norma sosial dan adat istiadat yang baik turut menjadi penunjang untuk mencapai integrasi sosial tersebut. Hal ini dikarenakan norma-norma sosial dan adat istiadat merupakan unsur yang mengatur perilaku dengan mengadakan tuntutan mengenai bagaimana orang harus bertingkah laku.
Namun
demikian tercapainya integrasi sosial dalam masyarakat memerlukan pengorbananm,
baik pengorbanan perasaan, maupun pengrobanan materil. Dasar dari pengorbanan
adalah langkah penyesuaian antara perbedaan perasaan, keinginan, ukuran dan
penilaian di dalam masyarakat tersebut. Maka dari itu norma sosial
sebagai acuan bertindak dan berprilaku dalam masyarakat akan memberikan pedoman
untuk seorang bagaimana bersosialisasi dalam masyarakat.
Adapun faktor - faktor
internal dan eksternal yang dapat mempengaruhi integrasi sosial dalam
masyarakat, antara lain sebagai berikut:
- Faktor internal : kesadaran diri sebagai
makhluk sosial, tuntutan kebutuhan, dan semangat gotong royong.
- Faktor eksternal : tuntutan perkembangan
zaman, persamaan kebudayaan, terbukanya kesempatan berpartisipasi dalam
kehidupan bersama, persaman visi, misi, dan tujuan, sikap toleransi, adanya
kosensus nilai, dan adanya tantangan dari luar.
Komentar
Posting Komentar